Curang, apa yang anda fahami dari kata itu?

Curang bisa berarti menyalahi aturan main, artinya si pelaku melalukan hal diluar apa yang telah disepakati sebagai ketentuan. Kalau boleh saya contohkan, jika ada 10 atlet lari lalu salah satu atlet melakukan start lebih awal atau keluar dari rute yang telah ditentukan, maka atlet tersebut dikatakan telah melakukan kecurangan. Mengapa ia dikatakan curang? Karena ia telah menyalahi aturan main. Dengan logika seperti itu tentu saja tidak sukar memahami contoh di atas.

Sekarang bagaimana kalau contohnya kita ubah sedikit, katakanlah ada 10 pelari yang telah melakukan start, ternyata seorang atlet memiliki kecepatan berlari 10x lipat dari 9 kompetitor lain. Dia mampu berlari sejauh 2 km pada saat yang lain baru mencapai jarak rata-rata 200 meter. Karena beberapa alasan, di tengah perjalanan dia memutuskan untuk singgah sebentar di sebuah warung kopi. Setelah dirasa puas sang atlet kemudian melanjutkan perlombaan dan ia tetap mencapai finish lebih dulu.

Pertanyannya kemudian, curangkah kemenangan yang diraih si atlet? Bukankah ia telah keluar dari rute yang telah ditentukan?

Saya pikir-pikir dulu,” kata seorang teman, dia seorang karyawan yang suka pindah-pindah kerja.

Teman saya yang pernah di pesantren dulu menjawab dengan rendah hati, “wallahu a’lam

Seorang teman lain yang dikenal temperamental menjawab dengan mantap, “dia menang telak, soalnya tidak ada atlet lain yang dirugikan!”. Teman saya ini memang dikenal keras kepala dan tidak menyukai pelajaran PPKn.

Dari sini fikiran saya mulai jernih tapi...masih ada contoh lain, seorang pedagang dikatakan curang apabila ia mengurangi timbangan, bagaimana kalau melebihkan? Apakah curang juga? Bukankah pedagang seperti itu tidak merugikan orang lain? Malah menguntungkan orang lain ^_^

Kali ini, teman saya yang temperamental tadi langsung menjawab, “ pedagang seperti itu tidak curang, cuma goblok!

Teman yang dari pesantren keliatan agak keberatan, dia bilang, “belum tentu, bisa jadi pedagang itu punya niat beramal dalam perniagaan.

Teman saya satunya lagi masih menjawab sama “saya fikir-fikir dulu….” Dia teman yang keliatan paling bingung dan jawabannya membingungkan.

Diskusi tanpa tujuan jelas di atas berakhir tanpa hasil mufakat. Tapi sebelum pulang teman saya yang temperamental tadi tertawa, sambil geleng-geleng kepala dia menghampiri saya sambil berbisik, “make it easy aja coy”.
Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar

Jika anda menyukai artikel di atas silahkan share atau tinggalkan komentar. Mohon maaf, untuk menghindari spam, komentar yang menyertakan live link akan dihapus.

Statistik